Artikel - Penghijauan:
HYDROSEEDING TAMBANG DAN PENCEGAHAN EROSI
Januari 23, 2017
HYDROSEEDING TAMBANG DAN PENCEGAHAN EROSI Salah satu dampak yang ditinggalkan dari kegiatan penambangan, yaitu Hi-wall atau lahan bertebing dengan kondisi bebatuan yang mudah terurai teksturnya ketika terkena limpasan air hujan (struktur sandy stone). Tebing-tebing ini beresiko tinggi dengan erosi dan pencucian unsur hara. Kondisi ini juga sangat mempersulit upaya tanaman tumbuh atau terjadinya suksesi sekunder, walau itu hanya rumput.

Sifat tanah yang seperti ini biasanya memiliki karakter yang asam, keras/padat, berpasir, KTK rendah (<16), Fe tinggi dan Al serta Sulfida juga dalam komposisi yang tinggi. Untuk menanganinya ada beberapa macam, salah satunya yang paling jitu adalah Hydroseeding. Hydroseeding merupakan metode penanaman tebing dengan mencampur media tanam dengan benih ke dalam tanki yang kemudian disemprotkan pada dinding tebing.

Guna mendukung kestabilan lereng dapat dipasang jaring dari sabut kelapa, jute, geotekstil maupun dari jenis jaring baja lainnya yang bertujuan untuk menjaga, mencegah erosi sebelum covercrop-nya tumbuh, menyediakan media rambat pada covercrop, membuat iklim mikro pada benih covercrop, sebagai media sangkutan pada benih covercrop sehingga covercrop tidak mudah terbawa oleh limpasan air hujan, dan untuk menambah bahan organik.

Legume Cover Crop (LCC) yang digunakan umumnya adalah Calapogonium muconoides, Centrosema pubescens dan Pueraria javanica atau biasa disebut dengan CM, CP dan PJ. Pemilihan ketiga jenis benih tersebut berdasarkan kecepatan berkecambah dan panjang usia tanaman.

Material yang digunakan dalam Hydroseeding adalah air, pupuk NPK, perekat dan Pupuk Organik serta benih LCC. Penggunaan perekat bertujuan untuk membuat material lengket di bidang semprot. Hydroseeding berperan dalam menumbuhkan mikrobia dan keragaman spesias tanaman yang diaplikasikan dan membentuk siklus hara secara alami sehingga menjamin keberlangsungan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Pada lahan yang dilakukan Hydroseeding umumnya kandungan micronutriennya tinggi, secara alami dapat muncul asam humat dari bahan atau sisa-sisa dari tanaman maupun hewan melalui proses humi´Čükasi. Asam humat berfungsi mengabsorbsi micronutrien tersebut seperti Fe, Al dan Iogam lainnya. Asam humat mempunyai kemampuan untuk menstimulasi dan mengaktivasi proses fisiologi dan biologi pada organisme dalam tanah. Sehingga keberadaan mikronutrien menjadi tidak berdampak pada kematian tanaman karena asam humat bisa menyesuaikan kandungan micronutrien dengan kebutuhan tanaman.

Pada usia satu minggu setelah dilakukan Hydroseeding, maka benih LCC sudah mulai berkecambah, dan pada setiap harinya kecambah-kecambah tersebut terus tumbuh dan berkembang menjadi semai-semai besar, selanjutnya pada nantinya akan merambat dan menutup semua permukaan yang dihydroseeding. Di usia 2 bulan ke atas lahan akan sudah terlihat hijau oleh covercrop. Pada kondisi ini, erosifitas sudah berkurang cukup signifikan, sudah terjadi penambahan bahan organik dalam tanah dan proses mikroorganisme dimungkinkan sudah mulai dinamis kembali.

Oleh: Haryo Kuncoko

Komen

0 Komen
Silakan login untuk menulis komen.